Tuesday, January 23, 2007

Antara Dakwah dan Karir

Antara Karir dan Dakwah
oleh Al Akh, Ahmad Fauzi, S.T
nick YM ; mrfauzegh

Disampaikan dalam Kajian Online Jum'at Pagi Jam 10.00 - 11.00 WIB tanggal 19 Januari 2007 dengan peserta 28.


Bismillahirrohmanirrohim, Assalamu 'alaikum Waraohmatullahi
Innal hamda lillaah, nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruh, wana’udzubillaahi minsyuruuri anfusinaa, wamin sayyi aati a’maalina man yahdillaahi fala mudhillalah waman yudhlilhu fala haadiyalah,
Asyhadu anlaa ilaa ha illaLlah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu
Allohumma sholli ala Muhammad wa’ala ‘aalihi washobihi ajmain. amma ba’du.

Saudara saudariku sekalian rohimakumuLlah...

Sebelum memulai kajian saya perkenalkan diri saya terlebih dahulu, nama Ahmad Fauzi, pegawai di PT Wicaksana, Ancol. bukan di Kuningan


Satu lagi yang musti saya sampaikan. bahwa pamflet tentang kajian jumat ini yang menginformasikan ttg diri saya, saya pikir masih berlebihan pekerjaan utama saya masih seorang karyawan, yang juga mencoba ikutan berdakwah. Saya bukan seorang ustadz dan masih banyak yang perlu dibenahi dari diri saya.

Kali ini saya diamahi memberikan tema "Antara dakwah dan Karir", semoga apa yg saya sampaikan nanti ada korelasi dengan tema yang diminta. kalo kurang pas, mohon bisa didiskusikan agar lebih tajam.

Baik, ikhwah fillah rohimakumullah...

"Ud’u ila sabili rabbika bilhikmah wal mauidzotil hasanah, wajadilhum billati hiya ahsan."
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan cara yang baik"… (Q.S: 16:125)

Saudaraku seiman rahimakumullah,

Dakwah berasal dari kata daa’a, yad’uu : seruan, menyeru;
da’i : orang yang menyeru;
mad’u :objek dakwah.

Secara istilahan dakwah berarti pula sebuah aktifitas mengajak dengan upaya yang baik agar orang lain mau kembali mengikuti sunnah-sunnah yang sudah Allah SWT atur dalam aturan-aturan dalam Islam. Agar manusia mau kembali berjalan sesuai fithrah penciptaan manusia, mengabdi dan taat pada Allah SWT.
Dakwah juga bisa disarikan dari salah satu misi diturunkan risalah terakhir kepada Rasulullah SAW :
Yakhrujunnas minadzulumaatil jahiliyyah ilannuril Islam "Mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliyah menucu cahaya Islam."


Lalu siapa yang punya kewajiban berdakwah?

Kini, dakwah menjadi tugas ummat ini, tugas kita semua yang telah mengaku beriman kepada Allah dan RasulNya. Dakwah bukan tugas yang dipikulkan untuk para nabi dan rasul dan sekelompok manusia saja, Ustadz kah kita, guru, pedagang, pegawai, dan semua profesi dan aktifitas yang digeluti dalam hidup tidak ada satupun yang menggugurkannya dari kegiatan berdakwah dan menyeru kepada kebaikan.

Saudaraku semua,
Banyak diantara kita yang mungkin masih menunda-nunda kewajibannya untuk berdakwah, padahal dengan kapasitas yang ada mustinya kita semua telah mampu melakukan kegiatan dakwah, sekecil apapun bentuknya.
Banyak diantara kita merasa belum pantas memberikan nasihat, belum pantas saya berdakwah, belum cukup bekal ilmu saya untuk berbagi kepada orang lain.

Lalu kapan ikhwah fillah rohimakumullah?, kapan waktunya kita untuk memulai melakukan perbaikan?
Kenyataannya kondisi ummat ini tambah lama tambah memburuk, semakin hari kita melihat semakin bertambah saja seruan-seruan kemaksiatan. Acara ‘esek-esek TV, Film, internet bertambah banyak… akankah kita berpangku tangan melihat kondisi perburukan semakin menjadi-jadi?

Relakah kita menyaksikan saudara-saudara seiman kita menjadi pecandu-pecandu maksiat? Menjadi bagian dari agen-agen penyebar materi2 merusak melalui internet dan media lain?, relakah kita terus menerus hidup diantara debu-debu riba, jadi pengikut2 aliran kapitalis yang tak mau tahu tentang keseimbangan sosial?, relakah tim kerja kita menjadi bagian dari mesin-mesin korupsi yang merugikan Negara dan rakyat?.

Saudaraku,
Penyeru kepada keburukan sudah demikian banyak, pendakwah-pendakwah kesesatan kini begitu bebas menjajakan ‘jualannya’.

Ini hanya bisa diatasi dengan dakwah saudaraku!. dakwah dimanapun kita berada, hatta di tempat kerja sekalipun.
Ingatlah kembali saudara, apa yang Allah nyatakan bahwa kita ummat yang dilahirkan untuk menyeru kepada kebaikan dan menghalau segala bentuk kemunkaran.

Kuntum khoiru Ummah ukhrijat linnaas, ta’muruuna bilma’rufi watahauna anil munkar.

Lalu ada pertanyaan, darimana saya bisa memulai dakwah?, saya kan tidak pernah sekolah di pesantren?
Sebetulnya sederhana saudaraku.

Jawabannya satu, Ibda binafsika… mulailah dari dirimu, diri kita sendiri. Binalah diri kita sebaik-baiknya, berkumpullah dengan orang-orang yang sholeh yang mereka senantiasa berhati-hati dalam hidupnya, bergabunglah dengan majlis-majlis ilmu di lingkungan perkantoran atau di masjid2 dimana kita tinggal.

Pelajari Islam, karena Islam itu mudah dipelajari.

Bila seorang dokter belajar ilmu kedokteran maka dia hanya bicara tentang medis,
Seorang tukang kayu belajar ilmu perkayuan maka dia hanya bicara tentang bagaimana mengolah kayu dengan benar....tetapi,
Seorang dokter tidak boleh bicara tentang kayu sembarangan atau sebaliknya tukang kayu tidak boleh bicara tentang kedokteran sembarangan...

Lain halnya dengan Islam...semua orang bisa bicara tentang Islam karena Islam mudah dipelajari…oleh karena itulah perlunya belajar tentang pengetahuan Islam dengan benar..

Amalkan secara bertahap dan konsisten,

sedikit ilmu yang kita punya.

Fauzegh: Peragakan akhlak yang baik di lingkungan kerja kita, di lingkungan dimana sebagian besar waktu kita habiskan. Itu adalah awal dakwah yang bisa kita lakukan: Mendakwahi diri kita dan mencintai orang-orang yang berdakwah.
Jadi dakwah tidak mensyaratkan kita harus fasih dulu berbahasa arab, banyak hafal dalil-dalil qur’an dan hadits, walaupun skill alqur’an dan hadits sangat diperlukan untuk dakwah yang lebih sempurna. Tahap awal kita hanya diminta mencintai dakwah dan kebaikan itu dulu sambil rutin mengikuti majelis ilmu dan secara bertahap mendemokan kebaikan dilingkungan terdekat.

Ada 2 model dakwah yang bisa kita lakukan di lingkungan kerja. sambil melakukan aktifitas ma’isyah (pencaharian rizki) kita menjalankan fungsi dakwah.

1. Dakwah bil Hal – dakwah yang paling efektif.

Dakwah bil Hal artinya melakukan aktifitas dakwah dengan memberi contoh. Dakwah model ini merupakan dakwah yang paling kuat memberikan atsar (pengaruh) kepada lingkungan, krn sebelum kita mengajak orang lain. Kita sudah menjadi pelakunya terlebih dahulu.

Tanpa perlu berpidato, tanpa perlu berkata-kata, cukup kita menjaga amalan-amalan wajib dan sunnah, senantiasa berhati-hati dalam melangkah, insya Allah kita sudah bisa berkontribusi untuk dakwah dilingkungan kita yang awwam.

Ada seorang ibu curhat ke istri saya kalo anak gadisnya yang berumur 5 tahun sulit sekali diajarkan menggunakan jilbab, anaknya teriak gerah dan panas ketika berbusana muslimah. Si ibu heran kenapa si Salma anak kami begitu nyaman berjilbab walaupun diluar jam sekolahnya. Istri saya langsung menjelaskan pentingnya dakwah Bil Hal kepada kawannya tadi dan menyarankan agar si Ibu harus lebih dulu senantiasa mendemokan menutup aurat bagi anak-anaknya.

Ikhwah fillah, itu salah satu tips dakwah yang perlu kita renungkan dan amalkan, Dakwah Bil Hal.
Di kantor misalnya, kita senantiasa menjaga ibadah sholat kita, tiap kali waktu sholat kita selalu berusaha berjamaah. Rekan kerja pasti akan melihat prilaku kita, dan mereka akan lebih mudah kita ajak bersama-sama menunaikan sholat dengan contoh, dibandingkan dengan teori.

2. Kita juga bisa lakukan di sela-sela karir kita adalah, Dakwah Fardhiyyah.

Selain dakwah Bil Hal, kita juga mengenal dakwah Fardhiyyah, dakwah fardiyyah merupakan model dakwah yang melengkapi dakwah bil Hal yang juga bisa dikerjakan dilingkungan kerja.
Dakwah Fardiyyah, merupakan dakwah individu yang memiliki target individu pula, Dakwah ini perlu dilakukan untuk menambah simpatisan dan pendukung aktifitas dakwah.

Tentunya dari sekian lama kita beraktifitas di lingkungan kerja, kita memiliki penilaian terhadap org2 yang berinteraksi dengan kita, adakah diantara mereka yang tertarik dengan akhak kita? Adakah diantara mereka yang senang berdiskusi kebaikan dengan kita?. Nah orang-orang yang terlihat cenderung kepada kebaikan perlu kita dekati dan berikan treatment khusus agar semakin tertarik.

Memberikan perhatian khusus kepada sesorang, memberikan hadiah kecil pada event tertentu, berdiskusi masalah agama, melakukan aktifitas bersama, menziarahi (mengunjungi) ke rumahnya, dll, hingga kekuatan dakwah fardiyyah merubah dari ketertarikan seseorang pada dakwah hingga menjadi keterikatan.

Apa sebetulnya kekuatan dakwah Fardhiyyah?

Sebagaimana yang sudah saya katakana bhw dakwah fardhiyyah dapat menambah kuat barisan dakwah. Minimal dakwah fardhiyyah akan menambah jumlah orang yang simpatik dengan dakwah yang mudah-mudahan pada saatnya kita memerlukan, mereka akan siap berkontribusi buat dakwah.
Sungguh sangat dahsyat kekuatan dakwah fardhiyyah disela-sela aktifitas keseharian kita, tentang dakwah fardhiyyah lebih jauh dan kayfiyatnya, mungkin bisa kita diskusikan pada kesempatan lain.

Pertanyaan lain yang juga muncul menyangkut dakwah dalam karir adalah, "Apakah peran kita sebagai juru dakwah akan menghambat Karir?"

Saudara-saudaraku yang dirahmati Alloh SWT, apa yang kita serukan, apa yang kita contohkan, semuanya adalah akhlak yang akan mendukung produktifitas kerja kita. Datang tidak terlambat, selalu memanfaatkan waktu bagi kemajuan perusahaan, tidak bertindak yang merugikan perusahaan, tidak berlaku korup merupakan bagian-bagian dari materi dakwah yang kita serukan.


Dan beberapa materi yang bersifat seruan kebaikan memang akan laku dijual sepanjang tidak mengusik kepentingan orang lain dan akan menjadikan point tersendiri bahkan berujung pada meningkatnya karir (dunia).
Hanya saja tidak semua materi dakwah yang kita jual akan ‘laku’ untuk dipasarkan.
Ada sebuah kaidah bahwa dakwah itu identik dengan tantangan. Tanpa ujian dan cobaan, dakwah yang kita sampiakan perlu dipertanyakan kebenarannya.


" Tanpa ujian dan cobaan, dakwah yang kita sampaikan perlu dipertanyakan kebenarannya. "
Karena pada hakikatnya materi dakwah yang kita sampaikan itu ada diantaranya yang bertentangan dengan kebiasaan orang, banyak seruan dakwah yang bertolak belakang dengan selera dan kepentingan kebanyakan orang yang sudah terbiasa dalam kesalahan. Sehingga seorang da’i (juru dakwah) disaat tertentu harus mau berjalan berlawanan arah dengan barisan banyak orang, dan barisan ini akan menentang dan memberikan perlawanan.

Dakwah yang sudah pada tahap melawan arus, akan juga berpengaruh pada kegiatan ma’isyah dan karir seorang da’i. Kita bisa jadikan saudara kita Khairiansyah Salman sebagai sebuah contoh model dakwah yang lurus yang sudah menuntut pengorbanan.

Tantangan dakwah yang dihadapi Ustadz Khairiyansyah sudah pada tahap menghambat bahkan mengancam karir (dunia) beliau. Bahkan jika dilihat sekilas, perjuangannya membongkar prilaku salah pejabat negara akan merembet mengancam keamanan dan kenyamanan hidup diri dan keluarganya.
Tantangan dan Ujian dakwah seperti ini sudah menjadi sunnatullah yang dialami oleh nabi dan Rasul yang juga berlaku pada siapapun pelaku dakwah ilaLlah, sepanjang zaman.

Memang kita perlu juga membuat prioritas2 dalam dakwah, menciptakan keseimbangan antara dakwah dan karir.

Inti dari apa yang saya uraikan adalah, peluang dakwah, menyeru orang pada kebaikan dan perbaikan, terbuka untuk siapa saja dan dimana saja, hingga di tempat kerja pun, kita musti berdakwah, karena kebanyakan dari kita dari pagi hingga sore kita berada dilingkungan kerja.
Terakhir saya sampaikan ayat Alloh: Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Alloh dan mengerjakan kebajikan dan berkata “Sungguh, aku termasuk orang muslim (yang berserah diri)”, Q.S : 41:33


Wallahu a'lam bisshowab

No comments: