Wednesday, September 12, 2007
Ramadhan-nya Orang-orang Bersyukur
Keistimewaan pertama bahwa posisi Tarhib Ramadhan pada tahun ini berada dalam rangkaian “kemenangan” Pilkada di DKI Jakarta.
Kemenangan ini menjadi modal untuk memastikan diraihnya kemenangan di bulan Ramadhan, karena kita tidak ingin kalah dengan datangnya bulan suci Ramadhan.
Keistimewaan kedua bahwa tarhib ini juga diadakan setelah diselenggarakannya Rapimnas.
Rapimnas ini untuk memperkokoh sarat-sarat kemenangan yang ditegaskan dalam dua kata kunci yaitu pemantapan kapasitas kepemimpinan dan pelayanan.
Kapasitas kepemimpinan yang kita pahami adalah kapasitas keteladanan.
Kemudian Keteladanan ini didukung dengan kepasatitas pelayanan kepada seluruh warga masyarakat. Keistimewaan lainnya adalah bahwa kapasitas sebagai para muwajih untuk lingkungan dan masyarakat kita.
Jadi posisi kita dobel, Sebagi muwajih tentu saja kesungguhan kita di dalam menyongsong dan menyambutnya harus lebih kuat, lebih bermakna, lebih berkualitas dari tarhib-tarhib yang diadakan muslim lainnya.
Dan tentu saja persiapan kita untuk meraih kemenangan Ramadhan harus lebis serius.
Sebagai muwajjih, harus ada yang spesial dalam menyambut Ramadhan.
Kalau tamu itu datang dan kita kurang persiapan yang selevel dengan kemuliaan dari tamu itu, maka apa yang akan terjadi, kita akan dipermalukan oleh Allah SWT.
Allah mengirimkan tamunya yang mulia, tetapi kita tidak menyambutnya secara selayaknya. Mungkin rasa malu itu tidak kita rasakan di dunia, tetapi pasti akan kita rasakan di akhirat.
Kalau kita benar-benar ingin benar-benar berhasil dalam Ramadhan, pastilah kita benar-benar akan melakukan persiapan-persiapan yang semestinya.
Ini kita kiatkan dengan kita akan menyambut bulan agung Ramadhan.
Kalau sungguh-sungguh keinginan dan niat kita itu, niscaya kita mempersiapkan diri pada tingkat individu, keluarga dan pada tingkat komunitas kita.
Ada dua pola sekaligus dua posisi ketika kita menunaikan ibadah.
Pola dan posisi pertama adalah kita melakukan ibadah termasuk shiyam, qiyam, Al-Qur’an dalam posisi orang yang memang sadar dan menjalankan kewajiban.
Artinya kita menjalankan amaliah Ramadhan itu karena kewajiban.
Kalau pola ini, paling tingkatannya orang melaksanakan kewajiban itu standar saja.
Tetapi pola yang dicontohkan Rosulullah adalah pola ibadah orang-orang yang bersyukur atas karunia Allah. Pola Romadhan yang akan kita laksanakan adalah pola puasa dan ibadahnya orang-orang yang bersyukur.
Jadi kita dalam menjalani ibadah nanti keutamaan ibadah itu yang harus kita sempurnakan.
Sholat jamaah kita selalu dilakukan di awal waktu, dan diupayakan dilakukan di masjid.
Kalau ada syarat sahnya ibadah, maka orang yang beribadah karena rasa syukur tidak saja memperhatikan syarat-sayarat sah tetapi dia akan melaksanakan syarat-syarat kesempurnaan.
Begitu pula dalam membaca Alqur’an, bila ibadah kita adalah ibadah orang-orang yang bersyukur, maka kita akan merasakan kehangatan bersama Al-Qur’an dan kita tidak menghitung-hitung lagi setengah juz atau satu juz. Selama kita memiliki kesempatan membaca Al-Qur’an maka kita akan terus membacanya.
Kalaulah puasa itu ada pengaruhnya pada penampilan fisik, mulut menjadi kering, maka biarlah mulut menjadi kering karena menahan lapar dan dahaga, tetapi marilah kita basahi dengan dzikir kepada Allah SWT.
Karena disebutkan dalam sebuah hadist bahwa diantara orang-orang yang akan mendapat karunia Allah, adalah orang-orang yang selalu membasahi dirinya dengan dzikrullah. Ini peluang dalam Ramadhan.
Marilah kita pastikan, kita pun tidak mau ketinggalan, tidak mau kurang seratus kali beristigfar setiap hari selama bulan suci Ramadhan.
Kalau kita berinfaq, bersadaqah, tidak lagi kita hitung. Sebab orang yang bersyukur, adalah dasarnya kita serahkan hitung-hitungan pahalanya kepada Allah.
Kita hanya menjalankan saja. Kita serahkan kepada Allah untuk memberikan imbalannya sesuai dengan kerahiman Allah SWT bukan keadilannya.
Sebab kalau Allah memberikan imbalan sesuai dengan keadilannya, akan banyak ibadah kita yang tidak layak untuk diberi imbalan, karena Allah tahu betul disitu ada ria, rusak keikhlasan kita, ada kekurangsempurnaan, tetapi kita berharap kerahiman Allah SWT.
Dalam kerangka ibadah dan shiyam yang syukur ini, maka arti shiyam yang secara harfiyah adalah al imsyak-menahan, kita harus tingkatkan bahwa bukan hanya semata-mata untuk menahan.
Kita sering melihat tampilan orang-orang yang berpuasa, menahan lapar dan dahaga, menahan tidur dan terlalu banyak, akhirnya dia menahan untuk memperbayak aktifitas.
Mengapa? Karena tenaganya kurang, akhirnya ia tampak loyo dan berkurang produktifitasnya.
Berangkat ke tempat kerja siang, tapi pulang ingin lebih cepat.
Di tempat kerja juga demikian, dari ngantuk, nguap dan seterusnya. Ini kalau menahan untuk menahan.
Puasanya hanya menunggu tibanya waktu Maghrib saja. Ini tidak lebih puasnya orang yang menunggu dan menonton saja. Apalagi bila diperparah dengan menyalahkangunakan hadist nabi, “Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah.” Sehingga dia dari pagi sampai siang hingga sore tidur saja. Toh itu sudah ibadah menurut pemahamannya.
Padahal yang dimaksud dengan hadist ini, bukan tidur untuk tidur, tapi tidur sedikit untuk segar lagi, setelah itu bangun untuk tilawatil qur’an, untuk melaksanakan ibadah sehingga produktifitasnya dapat terjaga dan terpelihara. Jadi kita harus menghindari pemahaman dan aplikasi bahwa shiyam itu menahan dari semua-muanya. Akhirnya kurang aktifitas dan produktifitas.
Padahal di bulan Ramadhan ini juga merupakan hari bertemunya dua pasukan muslimin dan kufar.
Tentu saja itu suatu prestasi dan produktifitas yang sangat gemilang.
Oleh karenanya al imsak dalam makna puasa ini, menahan supaya kita bisa mengoptimalkan amal ibadah dan amal sholeh kita.
Sebab al imsak itu dari hal-hal yang membatalkan dan dari hal-hal yang negatif.
Kalau kita melihat dari hal-hal yang merusak puasa, maka kita akan bisa memaksimalkan kekuatan yang positif untuk memenangkan puasa kita setiap hari, memenangkan qiyamulail kita setiap hari, memenangkan tilawatil qur’an kita setiap hari.
Jadi kita harus terus menyegarkan pemahaman kita bahwa al imsak adalah menahan dari hal-hal yang negatif, agar kita bisa melecutkan potensi dan meningkatkan energi yang Allah berikan kepada kita untuk berbuat lebih banyak hal-hal yang baik. Kalau kita melaksanakan shiyam Ramadhan itu karena syukur kepada Allah SWT, maka imsaknya bukan imsak paling dasar. Kita menahan diri dari hal-hal yang membatalkan saja, Bukan hanya itu.
Kita harus naik sederajat lebih tinggi lagi, yaitu kita menahan diri dari segala hal yang diharamkan oleh Allah SWT.
Sebab disebutkan dalam hadist, banyak orang yang berpuasa, tapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja, karena yang ditahan hanya lapar dan dahaga saja, tapi gagal menahan hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Contoh hal-hal yang diharamkan oleh Allah adalah berburuk sangka terhadap sesama kaum muslimin. Kita wajib menghindari prasangka buruk terhadap sesama kaum muslimin.
Cara untuk menghindari prasangka buruk adalah pertama, pahamilah bahwa apa yang dia lakukan sesungguhnya adalah hal yang baik.
Seorang penyair menyebutkan kalau kamu ingin ingin mempertahankan ukhuwah, maka apa yang kamu lihat dari saudaramu itu, pahamilah bahwa apa yang ia lakukan itu baik, mungkin informasinya yang keliru kepada kita. Yang kedua, doakanlah mereka dan mintakanlah maaf untuk mereka.
Dalam berpuasa, kita berupaya agar tidak masuk pemikiran yang negatif.
Tidak ada ruginya berpikiran positif. Selain itu, hal-hal yang harus kita hindari adalah perkara subhat. Kita masih ragu apakah ini halal atau haram.
Menghindari subhat adalah jalan menuju taqwa. Rosulullah bersabda “Siapa yang menghindari subhat berarti dia telah membersihkan agama dan harga dirinya”. Tidaklah mungkin kita mencapai derajat taqwa kalau agama kita masih kotor. Karenanya diantara derajad taqwa adalah menghindari dari hal-hal yang subhat.
Selain subhat, kita juga harus berupaya menghindari hal-hal yang makruh.
Biasanya hal-hal yang makruh adalah dalam menggunakan waktu, misalnya hiburan.
Asalnya halal, tapi kalau kebanyakan yang halal, sehingga menggeser tugas dan pekerjaan yang lebih penting, maka yang halal ini berubah menjadi makruh.
Demikian juga tidur, asalnya halal tapi kalau terlalu banyak jadi makruh, tilawahnya jadi kurang, bahkan amalan sunat jadi kurang, Padahal yang akan memberikan safaat bagi orang-orang yang berpuasa adalah Al Qur’an. Inilah makna shiyam yang ingin kita perbaharui. Dengan upaya-upaya tersebut, Insya Allah kita tepat dalam memposisikan diri mencapai derajad taqwa.
Oleh : Ust. Surahman Hidayat (Ketua Dewan Syariah Pusat PKS)
http://pk-sejahtera.org/2006/index.php?op=isi&id=3586
Friday, July 27, 2007
HIKMAH ISRA’ wal MI’RAJ
Membangun Pribadi Muslim Sukses Dunia dan Akhirat
Oleh Ustad PILDACIL Syahrul SYah
di PT Indosat Gd. C1 Lt.2 Daan Mogot Jakarta Barat
Kamis, 26 Juli 2007 pkl. 12.15 - 13.30
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ﴿١﴾
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Qs. Al-Israa :1)
Di awal ayat 1 Surat Al-Isra, Allah Swt mengawali sebuah peristiwa besar dengan kalimat “Subhana” yang mana hal ini amat jarang bagi Allah Swt dalam ayat-ayat lainnya. Sebagaimana kisah penciptaan Adam As, terbenamnya Fir’aun dan Lahirnya Nabi Isa As dalam Al-Qur’an tidak diawali dengan kalimat “Subhana” meski peristiwa diatas termasuk yang luar biasa dalam ukuran manusia. Selanjutnya, Allah menjelaskan peristiwa besar tersebut dengan memperjalankan hambaNya (Muhammad Saw) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan lalu dinaikkan ke Sidratil Muntaha dimana setelah sebelumnya Rasulullah Muhammad Saw dibersihkan qalbunya oleh Jibril dan dihantarkan dengan Bouraq. Dalam keadaan ini Allah bersifat aktif sementara Nabi Muhammad Saw pasif, sehingga hal ini terjadi sesuai qudrat dan iradah Allah Swt. Peristiwa inilah yang kemudian dikenal dengan Isra’ wal Mi’raj.
Peristiwa Isra Mi’raj tersebut dilakukan pada malam hari, dimana Alloh memberangkatkan Nabi Muhammad SAW dari masjidil Aqsho ke masjidil Haram. Mengapa di malam hari, hal ini di sebabkan pada waktu malam adalah waktu yang tepat untuk beribadah kepada Alloh SWT dengan banyak bersujud, qiyamullail, tilawatil qur’an, berdo’a dan lain sebagainya. Berikutnya, Allah menjadikan titik berangkat dan transit adalah dari Masjid ke Masjid sebelum naik menuju Sidratil Muntaha bahkan pulangnya pun kembali Masjid. Hal ini menunjukkan pentingnya Masjid dalam kehidupan Muslim, bahkan Rasulullah Saw menjadikan salah satu indikator orang yang beriman adalah seorang muslim yang hatinya terpaut dengan masjid. Selain itu 3 masjid yang memiliki keutamaan dimana 2 diantaranya disebutkan di ayat ini (masjid al haram & masjid al aqsha) sedangkan lainnya Masjid Nabawi di Madinah. Hal ini agar umat Islam peduli dengan keberadaan Masjid terlebih Masjid yang tersebut di atas.
Adapun peristiwa Isra wal Mi’raj terjadi setelah Meninggalnya Khadijah istri nabi Muhammad SAW yang pertama, dimana beliau banyak mengorbankan jiwa raga dan harta demi dakwah dijalan Alloh.Dan juga meninggalnya Abu Tholib (paman Rasulullah Saw) penyemangat dakwah Nabi. Tahun tersebutlah yang dikenal ’Aamul Huzni (Tahun Kesedihan). Dan pada tahun ini pun tribulensi dan tekanan dari kaum kafirin terhadap Rasulullah bertambah hebat. Sehingga dari keadaan ini, Allah Swt menjadikan peristiwa Isra’ wal Mi’raj sebagai peneguh sekaligus penghibur bagi Rasulullah Saw.
Dari kejadian itu, Allah Swt perintahkan Nabi Muhammad SAW untuk melakukan perjalanan bertemu dengan Allah Swt. Hikmah yang Nabi dapatkan dalam perjalanan tersebut yakni perintah sholat yang sebelumnya diwajibkan 50 waktu menjadi 5 waktu (setelah melalui proses syura’ dengan Nabi Musa As untuk memon Rahmat Allah Swt agar dapat diberikan yang lebih ringan ; 50 è 5 ).
Kedudukan Sholat dalam agama Islam terlihat berbeda karena perintah Shalat langsung diterima di langit dan berbeda dengan syariat lainnya yang diperoleh Nabi Muhammad Saw di bumi. Selain itu, kedudukan Shalat lainnya bagi seorang muslim diantaranya adalah :
- Amal yang dihitung pertama kali di akhirat adalah sholat.
- Shalat adalah tiang agama. Barang siapa yang mendirikan sholat maka dia telah mendirikan agama islam dan barang siapa yang tidak mendirikan sholat maka sama dengan dia menghancurkan agama Islam.
- Pembeda antara seorang muslim dengan kafir yakni Shalat.
- Gerakan sujud dalam sholat adalah saat-saat dimana kita lebih dekat dengan Alloh, maka di sujud rakaat terakhir berdoalah dengan kesungguhan.
- Shalat juga mencegah perbuatan keji dan munkar (filosofi berwudhu dan shalat)
Untuk memperoleh golongan orang beriman yang beruntung salah satunya adalah shalat dengan khusyu’. Adapun beberapa tips menuju khusyu’:
- Hadirkan hati saat sholat, jangan kosongkan hati
- Pakailah pakaian yang baik dan bersih
- Agungkanlah Alloh (rendahkan diri ini)
- Fahami apa yang kita baca dalam sholat
- Mahabbah (hadirkan rasa cinta kepada Alloh dihati kita)
- Hadirkan rasa takut karena takut tidak khusuk ibadahnya sekaligus raja’ bahwa yang kita lakukan akan diterima Allah Swt.
- Kerjakan sholat dengan kesungguhan seakan-akan sholat yang dikerjakan adalah sholat yang terakhir yang kita persembahkan kepada Allah Swt.
Tuesday, January 23, 2007
Antara Dakwah dan Karir
oleh Al Akh, Ahmad Fauzi, S.T
nick YM ; mrfauzegh
Disampaikan dalam Kajian Online Jum'at Pagi Jam 10.00 - 11.00 WIB tanggal 19 Januari 2007 dengan peserta 28.
Bismillahirrohmanirrohim, Assalamu 'alaikum Waraohmatullahi
Innal hamda lillaah, nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruh, wana’udzubillaahi minsyuruuri anfusinaa, wamin sayyi aati a’maalina man yahdillaahi fala mudhillalah waman yudhlilhu fala haadiyalah,
Asyhadu anlaa ilaa ha illaLlah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu
Allohumma sholli ala Muhammad wa’ala ‘aalihi washobihi ajmain. amma ba’du.
Saudara saudariku sekalian rohimakumuLlah...
Sebelum memulai kajian saya perkenalkan diri saya terlebih dahulu, nama Ahmad Fauzi, pegawai di PT Wicaksana, Ancol. bukan di Kuningan
Satu lagi yang musti saya sampaikan. bahwa pamflet tentang kajian jumat ini yang menginformasikan ttg diri saya, saya pikir masih berlebihan pekerjaan utama saya masih seorang karyawan, yang juga mencoba ikutan berdakwah. Saya bukan seorang ustadz dan masih banyak yang perlu dibenahi dari diri saya.
Kali ini saya diamahi memberikan tema "Antara dakwah dan Karir", semoga apa yg saya sampaikan nanti ada korelasi dengan tema yang diminta. kalo kurang pas, mohon bisa didiskusikan agar lebih tajam.
Baik, ikhwah fillah rohimakumullah...
"Ud’u ila sabili rabbika bilhikmah wal mauidzotil hasanah, wajadilhum billati hiya ahsan."
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan cara yang baik"… (Q.S: 16:125)
Saudaraku seiman rahimakumullah,
Dakwah berasal dari kata daa’a, yad’uu : seruan, menyeru;
da’i : orang yang menyeru;
mad’u :objek dakwah.
Secara istilahan dakwah berarti pula sebuah aktifitas mengajak dengan upaya yang baik agar orang lain mau kembali mengikuti sunnah-sunnah yang sudah Allah SWT atur dalam aturan-aturan dalam Islam. Agar manusia mau kembali berjalan sesuai fithrah penciptaan manusia, mengabdi dan taat pada Allah SWT.
Dakwah juga bisa disarikan dari salah satu misi diturunkan risalah terakhir kepada Rasulullah SAW :
Yakhrujunnas minadzulumaatil jahiliyyah ilannuril Islam "Mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliyah menucu cahaya Islam."
Lalu siapa yang punya kewajiban berdakwah?
Kini, dakwah menjadi tugas ummat ini, tugas kita semua yang telah mengaku beriman kepada Allah dan RasulNya. Dakwah bukan tugas yang dipikulkan untuk para nabi dan rasul dan sekelompok manusia saja, Ustadz kah kita, guru, pedagang, pegawai, dan semua profesi dan aktifitas yang digeluti dalam hidup tidak ada satupun yang menggugurkannya dari kegiatan berdakwah dan menyeru kepada kebaikan.
Saudaraku semua,Banyak diantara kita yang mungkin masih menunda-nunda kewajibannya untuk berdakwah, padahal dengan kapasitas yang ada mustinya kita semua telah mampu melakukan kegiatan dakwah, sekecil apapun bentuknya.
Banyak diantara kita merasa belum pantas memberikan nasihat, belum pantas saya berdakwah, belum cukup bekal ilmu saya untuk berbagi kepada orang lain.
Lalu kapan ikhwah fillah rohimakumullah?, kapan waktunya kita untuk memulai melakukan perbaikan?
Kenyataannya kondisi ummat ini tambah lama tambah memburuk, semakin hari kita melihat semakin bertambah saja seruan-seruan kemaksiatan. Acara ‘esek-esek TV, Film, internet bertambah banyak… akankah kita berpangku tangan melihat kondisi perburukan semakin menjadi-jadi?
Relakah kita menyaksikan saudara-saudara seiman kita menjadi pecandu-pecandu maksiat? Menjadi bagian dari agen-agen penyebar materi2 merusak melalui internet dan media lain?, relakah kita terus menerus hidup diantara debu-debu riba, jadi pengikut2 aliran kapitalis yang tak mau tahu tentang keseimbangan sosial?, relakah tim kerja kita menjadi bagian dari mesin-mesin korupsi yang merugikan Negara dan rakyat?.
Saudaraku,Penyeru kepada keburukan sudah demikian banyak, pendakwah-pendakwah kesesatan kini begitu bebas menjajakan ‘jualannya’.
Ini hanya bisa diatasi dengan dakwah saudaraku!. dakwah dimanapun kita berada, hatta di tempat kerja sekalipun.
Ingatlah kembali saudara, apa yang Allah nyatakan bahwa kita ummat yang dilahirkan untuk menyeru kepada kebaikan dan menghalau segala bentuk kemunkaran.
Kuntum khoiru Ummah ukhrijat linnaas, ta’muruuna bilma’rufi watahauna anil munkar.
Lalu ada pertanyaan, darimana saya bisa memulai dakwah?, saya kan tidak pernah sekolah di pesantren?
Sebetulnya sederhana saudaraku.
Jawabannya satu, Ibda binafsika… mulailah dari dirimu, diri kita sendiri. Binalah diri kita sebaik-baiknya, berkumpullah dengan orang-orang yang sholeh yang mereka senantiasa berhati-hati dalam hidupnya, bergabunglah dengan majlis-majlis ilmu di lingkungan perkantoran atau di masjid2 dimana kita tinggal.
Pelajari Islam, karena Islam itu mudah dipelajari.
Bila seorang dokter belajar ilmu kedokteran maka dia hanya bicara tentang medis,
Seorang tukang kayu belajar ilmu perkayuan maka dia hanya bicara tentang bagaimana mengolah kayu dengan benar....tetapi,
Seorang dokter tidak boleh bicara tentang kayu sembarangan atau sebaliknya tukang kayu tidak boleh bicara tentang kedokteran sembarangan...
Amalkan secara bertahap dan konsisten,
sedikit ilmu yang kita punya.
Fauzegh: Peragakan akhlak yang baik di lingkungan kerja kita, di lingkungan dimana sebagian besar waktu kita habiskan. Itu adalah awal dakwah yang bisa kita lakukan: Mendakwahi diri kita dan mencintai orang-orang yang berdakwah.Jadi dakwah tidak mensyaratkan kita harus fasih dulu berbahasa arab, banyak hafal dalil-dalil qur’an dan hadits, walaupun skill alqur’an dan hadits sangat diperlukan untuk dakwah yang lebih sempurna. Tahap awal kita hanya diminta mencintai dakwah dan kebaikan itu dulu sambil rutin mengikuti majelis ilmu dan secara bertahap mendemokan kebaikan dilingkungan terdekat.
Ada 2 model dakwah yang bisa kita lakukan di lingkungan kerja. sambil melakukan aktifitas ma’isyah (pencaharian rizki) kita menjalankan fungsi dakwah.
1. Dakwah bil Hal – dakwah yang paling efektif.
Dakwah bil Hal artinya melakukan aktifitas dakwah dengan memberi contoh. Dakwah model ini merupakan dakwah yang paling kuat memberikan atsar (pengaruh) kepada lingkungan, krn sebelum kita mengajak orang lain. Kita sudah menjadi pelakunya terlebih dahulu.Tanpa perlu berpidato, tanpa perlu berkata-kata, cukup kita menjaga amalan-amalan wajib dan sunnah, senantiasa berhati-hati dalam melangkah, insya Allah kita sudah bisa berkontribusi untuk dakwah dilingkungan kita yang awwam.
Ada seorang ibu curhat ke istri saya kalo anak gadisnya yang berumur 5 tahun sulit sekali diajarkan menggunakan jilbab, anaknya teriak gerah dan panas ketika berbusana muslimah. Si ibu heran kenapa si Salma anak kami begitu nyaman berjilbab walaupun diluar jam sekolahnya. Istri saya langsung menjelaskan pentingnya dakwah Bil Hal kepada kawannya tadi dan menyarankan agar si Ibu harus lebih dulu senantiasa mendemokan menutup aurat bagi anak-anaknya.
Ikhwah fillah, itu salah satu tips dakwah yang perlu kita renungkan dan amalkan, Dakwah Bil Hal.
Di kantor misalnya, kita senantiasa menjaga ibadah sholat kita, tiap kali waktu sholat kita selalu berusaha berjamaah. Rekan kerja pasti akan melihat prilaku kita, dan mereka akan lebih mudah kita ajak bersama-sama menunaikan sholat dengan contoh, dibandingkan dengan teori.
2. Kita juga bisa lakukan di sela-sela karir kita adalah, Dakwah Fardhiyyah.
Selain dakwah Bil Hal, kita juga mengenal dakwah Fardhiyyah, dakwah fardiyyah merupakan model dakwah yang melengkapi dakwah bil Hal yang juga bisa dikerjakan dilingkungan kerja.
Dakwah Fardiyyah, merupakan dakwah individu yang memiliki target individu pula, Dakwah ini perlu dilakukan untuk menambah simpatisan dan pendukung aktifitas dakwah.
Tentunya dari sekian lama kita beraktifitas di lingkungan kerja, kita memiliki penilaian terhadap org2 yang berinteraksi dengan kita, adakah diantara mereka yang tertarik dengan akhak kita? Adakah diantara mereka yang senang berdiskusi kebaikan dengan kita?. Nah orang-orang yang terlihat cenderung kepada kebaikan perlu kita dekati dan berikan treatment khusus agar semakin tertarik.
Memberikan perhatian khusus kepada sesorang, memberikan hadiah kecil pada event tertentu, berdiskusi masalah agama, melakukan aktifitas bersama, menziarahi (mengunjungi) ke rumahnya, dll, hingga kekuatan dakwah fardiyyah merubah dari ketertarikan seseorang pada dakwah hingga menjadi keterikatan.
Apa sebetulnya kekuatan dakwah Fardhiyyah?
Sebagaimana yang sudah saya katakana bhw dakwah fardhiyyah dapat menambah kuat barisan dakwah. Minimal dakwah fardhiyyah akan menambah jumlah orang yang simpatik dengan dakwah yang mudah-mudahan pada saatnya kita memerlukan, mereka akan siap berkontribusi buat dakwah.
Sungguh sangat dahsyat kekuatan dakwah fardhiyyah disela-sela aktifitas keseharian kita, tentang dakwah fardhiyyah lebih jauh dan kayfiyatnya, mungkin bisa kita diskusikan pada kesempatan lain.
Pertanyaan lain yang juga muncul menyangkut dakwah dalam karir adalah, "Apakah peran kita sebagai juru dakwah akan menghambat Karir?"
Saudara-saudaraku yang dirahmati Alloh SWT, apa yang kita serukan, apa yang kita contohkan, semuanya adalah akhlak yang akan mendukung produktifitas kerja kita. Datang tidak terlambat, selalu memanfaatkan waktu bagi kemajuan perusahaan, tidak bertindak yang merugikan perusahaan, tidak berlaku korup merupakan bagian-bagian dari materi dakwah yang kita serukan.
Dan beberapa materi yang bersifat seruan kebaikan memang akan laku dijual sepanjang tidak mengusik kepentingan orang lain dan akan menjadikan point tersendiri bahkan berujung pada meningkatnya karir (dunia).
Hanya saja tidak semua materi dakwah yang kita jual akan ‘laku’ untuk dipasarkan.
Ada sebuah kaidah bahwa dakwah itu identik dengan tantangan. Tanpa ujian dan cobaan, dakwah yang kita sampiakan perlu dipertanyakan kebenarannya.
" Tanpa ujian dan cobaan, dakwah yang kita sampaikan perlu dipertanyakan kebenarannya. "
Karena pada hakikatnya materi dakwah yang kita sampaikan itu ada diantaranya yang bertentangan dengan kebiasaan orang, banyak seruan dakwah yang bertolak belakang dengan selera dan kepentingan kebanyakan orang yang sudah terbiasa dalam kesalahan. Sehingga seorang da’i (juru dakwah) disaat tertentu harus mau berjalan berlawanan arah dengan barisan banyak orang, dan barisan ini akan menentang dan memberikan perlawanan.
Dakwah yang sudah pada tahap melawan arus, akan juga berpengaruh pada kegiatan ma’isyah dan karir seorang da’i. Kita bisa jadikan saudara kita Khairiansyah Salman sebagai sebuah contoh model dakwah yang lurus yang sudah menuntut pengorbanan.
Tantangan dakwah yang dihadapi Ustadz Khairiyansyah sudah pada tahap menghambat bahkan mengancam karir (dunia) beliau. Bahkan jika dilihat sekilas, perjuangannya membongkar prilaku salah pejabat negara akan merembet mengancam keamanan dan kenyamanan hidup diri dan keluarganya.
Tantangan dan Ujian dakwah seperti ini sudah menjadi sunnatullah yang dialami oleh nabi dan Rasul yang juga berlaku pada siapapun pelaku dakwah ilaLlah, sepanjang zaman.
Memang kita perlu juga membuat prioritas2 dalam dakwah, menciptakan keseimbangan antara dakwah dan karir.
Inti dari apa yang saya uraikan adalah, peluang dakwah, menyeru orang pada kebaikan dan perbaikan, terbuka untuk siapa saja dan dimana saja, hingga di tempat kerja pun, kita musti berdakwah, karena kebanyakan dari kita dari pagi hingga sore kita berada dilingkungan kerja.
Terakhir saya sampaikan ayat Alloh: Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Alloh dan mengerjakan kebajikan dan berkata “Sungguh, aku termasuk orang muslim (yang berserah diri)”, Q.S : 41:33
Wallahu a'lam bisshowab
Tuesday, January 16, 2007
Pamflet : "Antara Dakwah dan Karir"
Senang sekali berjumpa dengan antum semua di penjuru bumi dunia.
Alhamdulilah, Kajian Online Jum'at Pagi akan mejadi menu kita.
Insya Alloh kali ini bersama seorang ikhwah yang sedang meniti karir di dunia IT sekaligus menjadi dakwah sebagai pekerjaan utamanya.
Bagaimana sih, caranya beliau memposisikan diri, saat orang lain terlena dengan karir sedangkan beliau istiqomah berdakwah di lingkungannya.
Ikuti kajiannya, insya Alloh pada :
Juma'at, 19 Januari 2007
Pukul 10.00-11.00 WIB
Tema : Antara Dakwah dan Karir
Nara sumber : Al Akh, Ahmad Fauzi, S.T.
Moderator : R. Salafudin/ Ratih W
ID YM : terangsaja / dejavu_rainbow
Untuk antum yang memiliki kesempatan silahkan bergabung dengan mengetik :
KAJIAN ke ID YM terangsaja dan dejavu-rainbow
atau bisa sms ke 081548011503, dengan ketik KAJIAN space ID YM
Kepada 56 peserta yang pernah mengikuti kajian online sebelumnya insya Alloh otomatis akan di invite oleh moderator.
Selamat Mengikuti, semoga Alloh memberikan kemanfaatan.Amin.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Sekilas Tentang Nara Sumber :
Nama Langkap : Ahmad Fauzi
Nama Panggilan : Ahmad
TTL : Jakarta, 23 Agustus 1973
Status : Menikah
Alamat : Jakarta
Motto : Melayani Ummat dengan Waro
Hoby : Olahraga Badminton
Pendidikan : SMA 60 Jakarta
S1 Teknik Informatika Institut Teknologi Indonesia
Pekerjaan : Network and IT Infrastucture enginer
Organisasi : Ketua Rohis SMA 60 Jakarta tahun 1991
Ketua Bidang Pembinaan Anak dan Remaha ITI tahun 1994
HP : 0888 161 462
Friday, January 12, 2007
Membina Keluarga dengan Islam
Oleh : Danang Prayoga
Kajian Online, Jum’at 12 Januari 2007
Pukul 10.00- 11.00
Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah. segala puji hanya kepada Allah, Tuhan semesta alam.
yang maha pengasih, yang kasihnya tak pernah pilih kasih.
serta maha penyayang yang sayangnya tak pernah terbilang.
Sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad Saw,
termasuk umatnnya yang mendapat syafaatnya kelak.amin.
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim, 66:6)
semoga kita semua disini bisa sama-sama saling belajar
karena saya juga masih dalam tahap belajar untuk membina sebuah keluarga sakinah mawaddwah warahmah
siapakah yang tidak ingin keluarganya seperti itu?
tentunya hal itulah yang kita impikan saat mengucapkan mitsaqan ghaliza dulu
buat yang belom walimah, moga disegerakan yakh? (amiiin)
Dengan membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah, tentunya kita dapat menghasilkan keturunan yang shalih dan shailah. kita akan menemukan kehangatan, kasih sayang, kebahagiaan dan ketenangan yang akan dirasakan seluruh anggota keluarga, juga masyarakat sekitar kita.
pertanyaannya sekarang adalah : bagaimana menciptakan keluarga sakinah mawaddah warahmah?
mungkin ini yang harus sama-sama kita pelajari lebih mendalam
berikut saya rangkumkan beberapa tips-tips praktis, agar nilai-nilai islam bisa membentuk keluarga yang kita dambakan :
1. Membiasakan salam
salam yang dimaksud disini, misalnya salam apabila hendak masuk rumah, keluar rumah, menerima atau menelpon, membiasakan
anak untuk bersalaman dengan tamu orang tua (selama tidak berbeda jenis).
2. Membiasakan berdoa dalam setiap aktifitas
misalnya doa sehabis sholat, doa mau & selesai makan, doa masuk & keluar rumah, doa masuk & keluar wc, doa mau belajar dan doa-doa lainnya
3. Membiasakan untuk membaca qur'an bersama
bukan membaca secara koor, tapi 1 orang membaca, yang lainnya menyimak
4. Panggil memanggil dengan panggilan yang baik
seperti rasulullah yang memanggil istrinya aisyah, dengan panggilan humairah (yang
kemerah-merahan)
5. Membiasakan sholat berjamaah
Untuk laki-laki, sangat dianjurkan untuk berjamaah di masjid. tentunya kita para bapak bisa mengajak anak laki-laki kita yang agak besar untuk sholat berjamaah di masjid. Apabila anak kita masih kecil, sebiaknya tidak usah dibawa, dikhawatirkan malah mengganggu jamaah yang lain. Sedangkan para ibu, anak perempuan kita sholat berjamaah dirumah.
6. berolah raga rutin bersama keluarga
rutin mingguan, jangan rutin bulanan atau malah tahunan. Tidak perlu jauh-jauh, yang paling utama adalah kerutinan dari olahraga tersebut.
7. rihlah/tamasya bersama keluarga
dengan tamasya, hubungan antara suami, istri, anak akan semakin dekat. tidak perlu yang jauh-jauh dan mahal-mahal. ke ragunan, hanya Rp 4000/orang dewasa. kalau ke Monas, malah gratis. Sedikit tadi beberapa tips praktis. tidak perlu banyak-banyak. yang penting adalah realisasinya
Seperti kata Aa Gym : 3M! Mulai dari yang kecil, mulai dari sendiri, mulai sekarang juga!
Karena biasanya, tahap yang paling sulit adalah realisasinya. klo untuk membuat rencana, bisa selesai dalam waktu 15 menit. realisasinya? ini nikh tantangan buat kita semua
8. bersikap lemah lembut (romantis) kepada suami/istri
"Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya" (HR. Abu Sa'id)
Sedikit saja dari saya. semoga bermanfaat bagi saya khususnya dan rekan-rekannya pada umumnya.
mohon maaf atas segala kesalahan. billahit taufiq walhidayah.
apabila masih ada yg kurang,bisa disampaikan ke danang@prayoga.info
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Wednesday, January 10, 2007
Siapkah Diri Membina Keluarga dengan Islam?
Online via YahoooMessanger (YM) bersama Ustad Danang Prayoga.
Seorang praktisi pernikahan dan keluarga.
Pastikan antum standby di depan komputer pukul 10.00-11.00 WIB.
Untuk kawan-kawan yang pernah mengikuti kajian online bersama moderator terangsaja akan otomatis di invite.
Sedangkan kawan baru yang ingin mengikuti kajiannya bisa contact ID terangsaja.
Ketik KAJIAN ONLINE.
atau sms ke 08154811503 ketik KAJIAN (spasi) ONLINE.
Insya Alloh tersedia layanan ilmu dan diskusi.
don't miss it.
Yuk, kita lihat sekilas tentang pembicara pekan ini:
Nama Lengkap : Danang Prayoga
nick name : Aa Yoga
email : danang@prayoga.info
status : Menikah
Tempat tgl lahir : Jakarta, 1979
Alamat : Tebet, Jakarta Selatan
Pendidikan terakhir : Teknik Elektro Universitas Islam Indonesia 1998-2002
Pekerjaan : Pekerja IT (programmer & Network administrator)
aktifitas maya :
- pengelola situs pernikahan prayoga.net -> prayoga.info
- owner & moderator milis tentang-pernikahan
- Pemerhati berbagai milis -> member dari 45 milis :)
Activity :
1994-1995 Anggota Kelompok Ilmiah Remaja, STM Negeri 3
1998-2000 Anggota Himpunan Mahasiswa Elektro Indonesia, Universitas Islam Indonesia
1999-2000 Anggota Forum Komunikasi Himpunan Mahasiswa Elektro Indonesia (FKHMEI)
2000-2002 Komisaris network143 Computer Network
2000-2002 KOMISI IV (Administrasi dan Anggaran) Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri, UII
2002 Ketua 524.net Electro Study Club
2003-sekarang Anggota Forum Silaturahim Remaja Islam Menteng Dalam
Motto :
"tentang apa-apa yang BELUM TERJADI, 99,99% ditentukan oleh manusia, sisanya oleh Tuhan.
Sedangkan apa-apa yang SUDAH TERJADI, 99,99% ditentukan oleh Tuhan, dan sisanya oleh manusia"
>> point-nya : segala hal bisa diwujudkan selama ada 3K + 2I (kemauan, kemampuan, kesempatan serta ijin ilahi)
salam,
Salafudin.
moderator kajian online Jum'at Pagi :)
Tuesday, January 9, 2007
Perbedaan Wasilah Dakwah Para Nabi & Rasul
AL-ADILLATU 'ALAA MASYRU'IYYATI AT-TANAWWU'IL WASAA'ILI WAL ASAALIBI
AD-DA'WATI FIL 'ASHR AL-ANBIYAA'I WAL MURSALIIN
(Dalil2 Disyariatkannya Keragaman Metode & Cara dlm Dakwah Pada Masa para Nabi &
Rasul)
Oleh : Abi AbduLLAAH
Ikhwah wa akhawat fiddiin,
Berbagai uslub & iqtiraahaat (cara & metode) dakwah adalah merupakan sebuah
ijtihad AL-IKHWAN dlm meletakkan prioritas dlm berdakwah berdasarkan kedekatan &
kemudahan dlm perbaikan dan pembangunannya, oleh karena hal merupakan
makaanul-ijtihaad (tempat ijtihad) maka ia sama sekali bukan hal yg bersifat
qath'iy (tidak bisa berubah)..
Mungkin ada yg akan mengatakan bhw mereka akan atau ingin menggunakan metode
dakwah & cara yg lain, maka kepada mereka kami katakan : Min fadhlika wa
ihsaanika (Silakan).. Karena tujuan AL-IKHWAN membuat tahapan2 dlm dakwah adalah
hanya untuk menentukan skala prioritas & penetapan target2 yg terukur &
terencana dg baik.. Bisa jadi ada yg menggunakan cara berbeda, maka itupun
ijtihaad pula, yg penting tidak didasari semangat hizbiyyah (merasa hanya
kelompoknya saja yg sesuai sunnah) atau ta'ashhubiyyah (fanatik terhadap
kelompok/pemikiran sendiri)..
Jika dikatakan mengapa AL-IKHWAN berani mengatakan bhw hal ini termasuk
makaanul-ijtihaad? Dan apakah tidak cukup kita meniru salaful-ummah saja? Ana
katakan jika kita melihat sirah para anbiyaa' wal mursaliin -Semoga shalawat
serta salam senantiasa tercurah pd mereka semua- sebagai sebaik-baik
salaful-ummah, maka antum akan dapatkan berbagai ijtihaad mereka dlm masalah ini
& tidak hanya menggunakan 1 cara saja, yg kesemua ijtihaad mereka itu tercantum
dlm KitabuLLAAH, bilaa naskh fiihaa (tanpa di-nasakh oleh ALLAAH), lihatlah
ayat2 sbb :
1. MAWQIFU NUH : DAKWAH SECARA RAHASIA DAN TERANG-TERANGAN
ALLAAH -Yg Maha Suci lagi Maha Tinggi- berfirman ttg Nuh -Semoga shalawat serta
salam senantiasa tercurah pd beliau- sbb :(afwan, belum bisa ditampilkan)
"Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara
terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan
terang-terangan dan dengan diam-diam." (QS Nuh, 71/8-9)
Dlm ayat di atas digambarkan bagaimana berbagai metode dakwah telah ditempuh
oleh Nabi Nuh -Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah pd beliau- dlm
mendakwahi kaum & ummatnya. Nuh -Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah
pd beliau- adalah 1 diantara 'ulul-'azmi minar rusul (Rasul2 yg memiliki 'azzam
yg kuat yg merupakan Rasul2 yg paling tinggi derajatnya disisi ALLAH SWT[1]),
dimana beliau 'alaihish shalatu was salam telah melakukan berbagai metode dlm
dakwahnya baik sirriyyah maupun 'alaniyyah.
Berkata Imam at-Thabari[2] bhw makna ASRARTU LAHUM ISRARA adalah : Hanya antara
Nuh -Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah pd beliau- dg kaumnya
secara rahasia. Berkata Imam Al-Qurthubi[3] bhw maknanya adalah Nuh -Semoga
shalawat serta salam senantiasa tercurah pd beliau- mendatangi mereka 1 persatu
ke rumah2 mereka. Sementara Imam An-Nasafi[4] menyebutkan bgm Nuh -Semoga
shalawat serta salam senantiasa tercurah pd beliau- mengoptimalkan semua potensi
dan semua cara dlm berdakwah, pertama beliau -Semoga shalawat serta salam
senantiasa tercurah pd beliau- mendakwahi kaumnya secara rahasia siang & malam,
lalu beliau -Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah pd beliau-
mendakwahi mereka secara terang2 an, kemudian beliau -Semoga shalawat serta
salam senantiasa tercurah pd beliau- menggabungkan cara rahasia dg cara terang2
an, demikianlah cara ber-amar ma'ruf nahyul munkar, hendaklah dimulai dg rahasia
& lembut lalu jk tidak berhasil maka barulah menggunakan cara terang2 an &
tegas.
Imam al-Maqrizi dlm kitabnya[5] menyitir pendapat 'Urwah bin Zubair, Ibnu Syihab
& Ibnu Ishaq tentang waktu antara awal kenabian (turunnya QS Al-'Alaq di gua
Hira') sampai turunnya ayat FASHDA' BIMAA TU'MARU WA A'RIDH 'ANIL MUSYRIKIIN[6]
sampai pada WA ANDZIR 'ASYIIRATAKAL AQRABIIN[7] dan ayat QUL INNII ANAN
NADZIIRUL MUBIIN[8] adalah 3 tahun, Al-Baladziri[9] menyebutkan 4 tahun. Ada
pula beberapa pendapat yg menganggap masa terputusnya wahyu tsb sekitar 40 hari,
15 hari atau bahkan 3 hari[10].
Dlm sirah[11] disebutkan saat Abubakar -Semoga ALLAH yg Maha Suci lagi Maha
Tinggi meridhoi beliau- memulai dakwah maka ia mulai mengajak kepada ALLAH &
Islam, yaitu orang yg diyakinkannya bisa merahasiakan & mendengarkan dakwah,
melalui dakwahnya maka masuk islamlah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam,
AbduRRAHMAN bin Auf, Sa'd bin Abi Waqqash & Thalhah bin 'UbaidiLLAH -Semoga
ALLAH yg Maha Suci lagi Maha Tinggi meridhoi mereka-. Dlm riwayat masuk islamnya
Ammar -Semoga ALLAH yg Maha Suci lagi Maha Tinggi meridhoi beliau- diantaranya
disebutkan[12] : ... aku melihat RasuluLLAH -Semoga shalawat serta salam
senantiasa tercurah pd beliau- sedang bersembunyi karena dimusuhi kaumnya...
Bukti lain atas masalah ini ialah perkataan Imam Ibnu Hajar dlm syarahnya atas
Shahih Bukhari[13], beliau menyebutkan bhw timbulnya perbedaan pendapat ttg
siapa yg lbh dulu masuk Islam disebabkan masing2 sahabat -Semoga ALLAH yg Maha
Suci lagi Maha Tinggi meridhoi mereka- tdk tahu siapa saja yg sudah Islam. Bukti
lain dakwah Nabi -Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah pd beliau-
secara rahasia pada periode awal tsb adalah kisah masuk islamnya segolongan Jin
yg diriwayatkan dlm hadits shahih[14] yaitu saat Nabi -Semoga shalawat serta
salam senantiasa tercurah pd beliau- mengumpulkan para sahabatnya di luar
Makkah.
Dlm sunnah Nabi muhammad -Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah pd
beliau- terlihat bhw fase dakwah sirriyyah berakhir setelah Nabi -Semoga
shalawat serta salam senantiasa tercurah pd beliau- mendapatkan jaminan keamanan
dari ALLAH -Yg Maha Suci lagi Maha Tinggi-[15]. Demikianlah yg harus diikuti,
yaitu pertimbangan sirriyyah & 'alaniyyah dlm berdakwah adalah keamanan &
perkiraan sampai serta diterimanya dakwah itu sendiri, setelah dakwah aman
dilakukan secara jahriyyah, maka wajib bagi para da'i menyampaikannya secara
jahriyyah, dan itulah yg dilakukan oleh para da'i AL-IKHWAN sesuai dg as-sunnah
yg shahih sampai saat ini, waliLLAHil hamdu wal minah.
Jika dikatakan bhw peristiwa sirriyyah itu telah dihapuskan (di-nasakh) dg ayat
WA ANDZIR 'ASYIIRATAKAL AQRABIIN[16] dan ayat YAA AYYUHAR RASUL BALLIGH MAA
UNZILA ILAYKA MIN RABBIKA[17], maka saya katakan bhw ayat ini sama sekali tdk
menasakh dakwah sirriyyah, selain karena dakwah sirriyyah merupakan cara dakwah
yg diakui dlm Al-Qur'an & tdk pernah dihapuskan hukumnya, selain itu nabi
SAW-pun pernah melakukan dakwah sirriyyah ini sekalipun setelah ayat2 di atas
diturunkan. Seperti saat peristiwa bai'ah Aqabah pertama[18], pd saat janji
setia yg bukan janji untuk berperang ini beliau -Semoga shalawat serta salam
senantiasa tercurah pd beliau- melakukannya dg sembunyi2. Demikian pula saat
peristiwa 'Aqabah yg kedua[19], yg disebut sbg janji setia untuk peperangan[20]
juga dilakukan di malam hari dan secara sembunyi2[21], bahkan sesama suku Aus &
Khazraj yg musyrik sama sekali tdk saling tahu[22]. Saat peristiwa hijrah
sebagian besar sahabat ber-hijrah secara sembunyi2[23], bahkan beliau -Semoga
shalawat serta salam senantiasa tercurah pd beliau- pun melakukannya dg
sembunyi2[24] walaupun sebagian sahabat ra ada pula yg melakukannya secara
terang2-an[25]. Demikianlah baik sembunyi2 ataupun terang2 an adalah bagian dari
metode dakwah, keduanya dapat dilakukan sesuai dg maslahat dakwah. SELESAI.
2. MAWQIFU YUSUF : BERKOALISI DENGAN PEMERINTAH SEKULAR
Sementara kita dapati ijtihad yg berbeda dari Nabi Yusuf --Semoga shalawat serta
salam senantiasa tercurah pd beliau- sebagaimana dituturkan dlm ayat yg mulia
berikut ini : (afwan, belum bisa ditampilkan)
Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku sebagai menteri perbendaharaan negara (Mesir);
Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". (QS
Yusuf, 12:55)
Berkata Imam At-Thabari dlm tafsirnya atas ayat tsb (VII/241). Berkata Ibnu Zaid
ttg makna kalimat QAALAJ'ALNII... : bahwa Fir'aun Mesir tsb memiliki banyak
sekali pembantu2 selain untuk urusan menteri perbendaharaan (pertanian), maka
semua pembesar Mesir setuju pd pengangkatan Yusuf di posisi tsb & mereka semua
tunduk pd putusannya. Berkata Syaibah Adh-Dhabiy : Maksudnya mengurus urusan
pangan. Adapun makna INNII HAFIIZHUN 'ALIIM : Hafiizh (mampu amanah dlm
mengurus) tugas tsb & 'aliim (tahu ilmunya) atas pekerjaan tsb.
Berkata Imam Ibnu Katsir dlm tafsirnya (II/633). Dlm ayat ini menunjukkan
dibolehkan bagi seseorang memuji dirinya sendiri (tentang kelebihan &
potensinya), jika orang lain tdk tahu & hal tsb dibutuhkan.
Imam Al-Baghawiy dlm tafsirnya (I/251) menyitir hadits Nabi SAW dari Ibnu Abbas
ra : "Semoga ALLAH SWT merahmati akhi Yusuf as, seandainya ia menyatakan
ANGKATLAH AKU SEBAGAI MENTERI PERBENDAHARAAN, saat pertama bertemu maka ia akan
diangkat. Tetapi ia sengaja mengakhirkannya selama setahun, sehingga ia bisa
bersama Raja Mesir tsb di rumahnya."
Berkata Imam Al-Qurthubi dlm tafsirnya (IX/181) : Di dlm ayat ini ada beberapa
hukum fiqh sbb ;
PERTAMA, beliau (Yusuf a.s.) menjelaskan (memperkenalkan) siapa dirinya, yaitu
orang yg mampu mengurus amanah tsb & tahu ilmunya.
KEDUA, berkata sebagian ulama (diantaranya Imam Al-Mawardi) bahwa para ulama
berbeda pendapat ttg makna ayat ini, berkata sebagiannya bhw dibolehkan bagi
seorang yg memiliki keutamaan untuk bekerja pd seorang yg pendosa (fajir) atau
penguasa yg kafir dg syarat ia mengetahui hal2 yg salah sehingga ia bisa
memperbaikinya semampunya. Adapun jk yg dilakukannya tsb untuk menuruti syahwat
sang pendosa, maka hal yg demikian tdk diperkenankan. Dan berkata sebagian ulama
lainnya, bhw hukum ini hanya khusus untuk Yusuf a.s saja, & tdk berlaku bagi
selainnya. Tetapi menurutku (Imam Al-Qurthubi) pendapat yg pertama lebih kuat,
waLLAHu a'lam.
KETIGA, dlm ayat ini juga menunjukkan hukum dibolehkannya seseorang untuk
menyampaikan keahliannya dlm sebuah pekerjaan. Ada yg menyatakan bhw hal ini
bertentangan dg hadits riwayat Muslim dari AbduRRAHMAN bin Samrah ra, dimana
telah bersabda nabi SAW : "Wahai AbduRRAHMAN jangan engkau meminta kekuasaan,
karena sesungguhnya jk engkau diberi karena engkau memintanya maka ia dibebankan
seluruhnya pdmu, sedangkan jk engkau diberi tanpa engkau memintanya maka engkau
akan ditolong (ALLAH SWT)." Maka jawabanku (Imam Al-Qurthubi) atas hal ini 2 hal
sbb ; 1) ketika Yusuf a.s. meminta kekuasaan tsb ia mengetahui tdk ada
seorangpun yg lebih adil & lbh baik untuk menyantuni fakir-miskin untuk tugas
tsb, sehingga menjadi fadhu 'ain baginya & bagi siapapun selain Yusuf a.s untuk
menyampaikan kemampuannya, & maju ke depan mengambil jabatan tsb. Adapun jk ia
melihat ada orang lain yg lebih adil dari dirinya & lebih mampu maka wajib
baginya menyerahkan pd orang lain tsb sbgm hadits Muslim di atas. 2) Bahwa Yusuf
a.s tdk memuji dirinya sendiri, ia tdk mengatakan bahwa ia orang baik atau ia
tampan, melainkan ia hanya menyampaikan informasi yg benar ttg kemampuannya &
tdk menyembunyikannya. Sehingga berkata Nabi SAW memuji Yusuf a.s : "AL-KARIIM,
IBNUL KARIIM, IBNUL KARIIM, IBNUL KARIIM YUUSUF BIN YA'QUUB BIN ISHAAQ BIN
IBRAHIIM." 3) Bhw beliau menyampaikan ttg hal tsb karena orang2 blm tahu,
sehingga beliau a.s. menganggap fardhu 'ain atas dirinya untuk menjelaskan agar
mrk mengetahuinya, 4) Bhw hal ini menjadi hukum bolehnya seseorang untuk
mensifati dirinya ttg kemampuan & kelebihannya, berkata Imam Al-Mawardi bhw
maksudnya bukan seluruh kelebihannya disampaikan, melainkan hanya yg berkaitan
dg jenis pekerjaan yg sedang/akan dihadapi tsb.
3. MAWQIFU HARUN : MEMBIARKAN KEMUSYRIKAN KARENA PERTIMBANGAN MASHLAHAT YG JELAS
& PASTI YG LEBIH BESAR
Lalu kita dapati pula ijtihad lain dari Nabi Harun -Semoga shalawat serta salam
senantiasa tercurah pd beliau- sebagaimana dituturkan dlm ayat yg mulia berikut
ini :........(afwan, belum bisa ditampilkan)
Harun menjawab' "Hai putera ibuku, janganlah kamu tarik janggutku dan jangan
(pula rambut) kepalaku; Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata
(kepadaku): "Kamu Telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara
amanatku". (QS Thaha, 20:94)
Berkata Imam At-Thabari[26] saat menafsirkan kalimat : Sungguh aku takut kamu
berkata... dst; bhw maknanya menurut sebagian ulama[27] adalah bhw Harun kuatir
sebagian kaumnya akan mengikutinya sementara sebagian yg lain akan
menyelisihinya. Sementara menurut sebagian ulama yg lain[28] maknanya adalah
Harun kuatir sebagian memerangi sebagian yg lain.
----------------------------------------------------------
[1] Tafsir Ibnu Katsir, IV/219; At-Thabari XI/302
[2] Tafsir At-Thabari, XII/248
[3] Tafsir Al-Qurthubi, XVIII/120
[4] Tafsir An-Nasafi, IV/282
[5] Imta'ul Asma', I/15 (ditahqiq oleh Syaikh Muhammad Syakir)
[6] QS Al-Hijr, 15/94
[7] QS Asy-Syu'araa', 26/214
[8] QS Al-Hijr, 15/89
[9] Ansab al-Asyraf, I/116
[10] Ini juga disebutkan dlm Ash-Shahihain dari hadits Ummu Jamil bin Harb ttg
turunnya QS Adh-Dhuha.
[11] Sirah Ibnu Hisyam, I/262-269.
[12] Shahih Muslim, I/596
[13] Fathul Bari', VII/84
[14] Shahih Muslim bis Syarh Nawawi, IV/168-170
[15] QS Al-Hijr, 15/95
[16] QS Asy-Syu'araa', 26/214
[17] QS Al-Ma'idah, 5/67
[18] Sirah Ibnu Hisyam, II/41-42, lih. Juga dlm Fathul Bari' I/66 & Shahih
Muslim III/1333
[19] Ibid, I/438
[20] Ibid, II/63; lih. Juga Musnad Ahmad V/316
[21] Ibid, I/439-443, 447-448; lih. Juga Fathul Bari' VII/221; Musnad Ahmad
III/460
[22] Ibid.
[23] Ibid, I/468; juga Fathul Bari' VII/260-261; Shahih Muslim II/632
[24] Fathul Bari' , VII/226, 231-232, 389; Al-Bidayah wan Nihayah, III/179;
Syarhul Mawahib liz Zarqani, I/323; Musnad Ahmad, I/248; lih. Juga tafsir QS
Al-Anfal, 8/30; QS At-Taubah, 9/40.
[25] Fathul Bari', VII/260
[26] Tafsir At-Thabari, XVIII-360
[27] Telah menceritakan Yunus, telah menceritakan Ibnu Wahhab dari Ibnu Zaid.
[28] Telah menceritakan Al-Qasim, telah menceritakan Al-Husein, telah
menceritakan Hajjaj, dari Ibnu Juraij.
Berjaya di Tahun Baru
Assalamualaikum Wr.wb.
Ba'da tahmid wa sholawat.
Ikhwati fillah rakhimakumullah.
20/21/23/24/25/26/27/28/29/30/31/32/33/34/35 tahun lebih kita diberikan kesempatan oleh alloh untuk mengabdi kepada Nya.
Banyak sekali yang telah kita perbuat dalam jangkauan usia itu. Setelah kita mampu berjalan sendiri, makan sendiri, melihat, bicara mulailah catatan kita tulis. Tak jarang catatan itu adalah kesalahan.
Bahkan hampir bisa dipastikan jika selelu saja kesalahan yang kita buat.
Tak sedikit mata ini melihat yang tidak haq.
Tak sedikit mulut ini melukai hati orang lain.
Tak tanggung-tanggung telinga ini menganga lebar mendengarkan gosip dan pembicaraan orang lain, lalu mulut ini menambahi.
Tak jarang tangan ini mengambil haq orang lain.
Kaki ini begitu mudah untuk diayun ke tempat maksiat, sedangkan berat sekali menuju masjid, rumah anak yatim, rumah orang tua, makam, menuju panti asuhan, dll.
Ikhwah fillah, alhamdulillah sekarang kita semua telah memiki penghasilan.
Ribuan, bahkan jutaan rupiah penghasilan kita.
Kemanakah penghasilan itu?
Coba kita hitung, sejak awal kita kerja, berapa yang sudah kita dapatkan?
Berapa rupiah yang memberikan manfaat pada dakwah?
Berapa rupiah yang kita sisihkan untuk anak-anak yatim?
Atau semua habis hanya untuk perut tamak itu?
Atau habis untuk menghiasi diri ?
Ikhwah fillah al Izza.
Semakin hari, usia kita bertambah, dan kesempatan untuk mengumpulkan bekal semakin berkurang.
Sedetik, semenit, sejam, sehari, seminggu, sebulan, setahun dan terus hingga datang KEMATIAN.
Astaghfirullah aladzim.
Sudah siapkah kita kedatangan tamu Alloh yang pasti itu?
Sudah siapkah, manakala MAUT menjemput?
Siap tak siap, suka tak suka, tua atau muda, sehat atau sakit, MAUT tetap datang menjemput.
Ikhwahfillah rakhimakumullah
Sejenak kita tundukkan kepala , memanjatkan doa.
Berdoa agar Alloh mengampuni dosa-dosa kita, dosa orang tua kita , guru kita, pemimpin kita, dan mengampuni dosa² orang -orang yang kita sayangi. Amin.
Ikhwah fillah,
Saatnya untuk membersihkan hati, niatkan semua hanya untuk Alloh SWT.
Azzamkan di diri untuk meninggalkan kemalasan²a beribadah pada Alloh SWT.
Berazzam memperbaiki sholat kita, mempertinggi kualitas ibadah kita.
Tata kembali hati ini.
Hati yang telah lama membeku.
Tata kembali hati ini.
Hati yang tak terusik lagi melihat kemungkaran.
Hati yang tak peduli lagi melihat kemaksiatan menggerogoti diri dan keluarga, bahkan seluruh ummat.
"Setiap orang bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukan (Q.S. 52:21).
Semestinya di tahun baru ini kita lebih berhati dalam berucap dan bertindak.
Cukup tahun lalu menjadi pelajaran dan guru untuk perbaikan diri.
Cukupkan kemaksiatan yang kita kerjakan.
Astaghfirullah 3 x....
Ya Rabb, Ya tuhan kami
Ampunilah dosa-dosa kami, orang tua kami, guru-guru kami, pemimpin kami, dan orang-orang yang senantiasa teguh beriman padaMu. Amin.
